Jumat, 23 November 2012

seni tari dan teater tradisional Korea


MAKALAH
SENI BUDAYA

Kesenian Sendra Tari dan Teater tradisional
Negara Korea.



Dari :
Kelompok 3
Anggota :
» Asri Apriliyanti R             (sukishiro)
» Anis Ramadhani                (sukiroshi)
» Bey Muhammad                (yufafu)
» Bunga Avita Putri    (yunakorinsu)
» Inda Damayanti               (rokotosu)
» Ingeu Siti Nurhaliza (rokorinfana)
» Iqbal Rizaldi            (romeyusuka)
Kelas 9F.

SMPN 3 PURWAKARTA

Kami memprsembahkan ('̀'́)        
KATA PENGANTAR


Puji Syukur kita panjatakan Ke Hadirat Allah SWT karena atas limpahan Rahmat serta Hidayah - Nya, penyusunan makalah ini dapat diselesaikan.
Adapun tujuan daripada pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata pelajaran Seni Budaya di sekolah SMP N 3 Purwakarta , juga untuk berbagi informasi berkaitan tentang Seni Tari dan Seni Teater tradisional Kora.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang sudah mendukung dalam penyusunan makalah ini. Pihak - pihak tersebut adalah:
- Orang tua yang telah mendukung penulis baik secara materil maupun secara moril.
- Guru yang sudah memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyusun makalah.
- Juga anggota kelompok lainnya dalam mencari isi dari makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa "Tak Ada Gading yang Tak Retak". Sehingga saran dan kritik sangat dibutuhkan penulis dalam penyusunan makalah yang mendatang.




Purwakarta, 21 November 2012
penulis
                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
1.    Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Tarian tradisional Korea (한국 무용; Hanguk Muyong) adalah bentuk seni tari yang berasal dari kebudayaan masyarakat Korea. Tarian tradisional Korea dibedakan menjadi 2 buah kategori, yakni tarian istana dan tarian rakyat. Teks sejarah menuliskan tentang kegemaran rakyat Korea kuno menari dan menyanyi berhari-hari, bermalam-malam sebagai bagian dari ritual pemujaan kepada dewa-dewa. Mereka juga menari untuk mengekspresikan jiwa (sin) dan kegembiraan (heung).
1.2 Rumusan masalah
a.   Jenis dan macam tarian tradisional Korea
·      Seungmu (僧舞; 승무)
·      Salpuri
·      Buchaechum
·     Hahoe Byeolsingut Talnori atau Hahoe Byeolsandae Nori (하회별신굿탈놀이)
·      Bongsan Talchum atau tari topeng Bongsan (봉산탈춤)
·     Saja noreum (사자놀음; "permainan singa"), sajachum, sajamu ("tarian singa")
·      Cheoyongmu atau Tari Choyeong
·      Gainjeonmokdan (kainʨʌmoktan)
·      Ganggangsullae atau Ganggangsuwollae
·      Mugo (hangul:무고)
·      Seonyurak ("tari pesta di atas perahu")
·      Taekkyeon
·      Taepyeongmu (태평무; translasi literal "tari perdamaian agung")

a.  Jenis dan macam teater tradisional Korea
·      Jeongdong Theater
·      Deotboegi
·      Deolmi

2.  Pembahasan
1.3    tujuan
Adapaun tujuan daripada penyusunan makalah ini adalah untuk mengumpulkan hasil tugas kelompok kami kepada guru.
   1.4  Metode
Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah adalah studi literatur.
   1.5  Kegunaan
Adapun kegunaan daripada penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca tentang jenis juga penjelasan dari tarian dan teater dari Negara Korea.
   1.6  Sistematika
Sistematika penulisan yang dilakukan oleh penulis diantaranya:
           a. Menentukan topik
             Pertama penulis menenetukan topik. Setelah berpikir, maka diputuskan topiknya tentang pranata sosial.
           b. Mengumpulkan data
Setelah ditentukan topik, lalu penulis mengumpulkan data buku tentang pranata sosial.
c. Menyusun data
pulkan datanya, baru data tersebut dipilah dan dipilih untuk kemudian disusun.
d. Melaporkan
Setelah disusun, baru dilaporkan dalam bentuk makalah.
1.4              Jenis dan macam tarian tradisional Korea
1.  Seungmu (僧舞; 승무)
adalah sebuah tarian tradisional Korea yang awalnya ditarikan oleh biksu. Tarian ini dimasukkan ke dalam daftar Warisan Budaya Nonbendawi Korea Selatan nomor 27 pada tahun 1969. Asal usul tari ini adalah Beopgo-chum (tari memukul beduk) pada masa Dinasti Joseon (1392-1910). Pada perkembangannya beopgo-chum dikembangkan oleh gisaeng menjadi seungmu yang dikenal sekarang ini. Tari ini diiringi oleh permainan musik Buddhis dengan 8 buah repertoar, yaitu yeombul, dodeuri, taryeong, jajin taryeong, gutgeori, dwit gutgeori, gujeong nori, dan saesanjo. Banyak orang Korea menganggap bahwa Seungmu adalah salah satu tarian rakyat yang paling indah dan rumit gerakannya. Keindahan tarian ini terlihat dari gerakan gemulai sang penari yang menggunakan selendang putih panjang dan kemudian memukul beduk. Ekspresi wajah berbeda-beda pada setiap bagian. Penari Seungmu memakai tudung putih yang disebut gokkal dengan lengan baju yang panjang yang disebut gasa.
2. Salpuri
adalah tarian rakyat Korea yang bermakna "mengusir arwah jahat, setan dan kesialan". Salpuri termasuk dalam kategori heoteunchum, yakni tarian impromptu yang ditampilkan dengan gaya yang tidak ditentukan. Heoteunchum menjadi pola dasar tari-tarian tradisional Korea yang bersifat improvisasi, yang ditandai dengan gerakan mengangkat bahu dan menggerakan tangan mengikuti musik. Tari salpuri bercirikhas sederhana karena penarinya, baik wanita atau pria dapat mengenakan hanbok sehari-hari, biasanya berwarna putih dan dilengkapi selendang di tangan. Penari melambaikan selendang putih panjang dari sutera dengan memfokuskan gerakan pada tubuh bagian atas sementara gerakan kaki terkontrol dan tenang. Selendang yang dikibaskan ke udara melambangkan si penari sedang mengendalikan kesakitan dalam jiwa ("han"). Lagu yang mengiringi salpuri dinamakan nyanyian salpuri dan musiknya dinamakan sinawi. Tiga daerah di Korea memiliki variasi salpuri yang berbeda-beda antara lain versi Gyeonggi, Jeolla dan Gyeongsang.
3. Buchaechum
adalah salah satu tarian tradisional dari Korea yang paling terkenal, biasanya dipentaskan oleh sekelompok wanita. Tarian ini adalah kreasi baru, yang diciptakan oleh penari Kim Baek-Bong pada tahun 1954. Para penari menari menggunakan kipas yang berhiaskan bunga peony dan mengenakan hanbok yang berwarna mencolok.
4. Hahoe Byeolsingut Talnori atau Hahoe Byeolsandae Nori (하회별신굿탈놀이)
adalah sendratari topeng (talchum) yang berasal dari Kampung Hahoe, Andong, propinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan Pertunjukkan ini diadakan dalam gut untuk dewa pelindung kampung yang diundang untuk berkunjung pada waktu perayaan bulan purnama pertama. Topeng untuk sendratari Hahoe Byeolsingut Tal-nori dinamakan topeng Hahoe, yang dibuat dari kayu alder yang telah dikeringkan secara seksama. Keunikan topeng Hahoe adalah bagian dagu yang terpisah dari wajah walaupun tidak dikerjakan dalam potongan yang terpisah Bagian dagu disambungkan dengan tali sehingga dapat bergerak ke atas dan ke bawah.







5.   Bongsan Talchum atau tari topeng Bongsan (봉산탈춤)
adalah sebuah pertunjukkan talchum yang berasal dari Korea. Kesenian ini berkembang sejak abad ke-18 di wilayah propinsi Hwanghae, Korea bagian utara dan dalam perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai jenis kesenian dari daerah-daerah lain di Korea. Kesenian ini mencapai masa kejayaannya pada abad ke-20 dimana dipentaskan di berbagai acara penting seperti ulang tahun, pengangkatan bupati baru dan kunjungan utusan asing  Biasanya kesenian ini dimainkan pada saat hari besar seperti hari Dano setiap tanggal 5 bulan ke-5 kalender Imlek. Pada tahun 1915, Bongsan talchum dipentaskan di Sariwon ketika kantor administrasi kotapraja dipindahkan ke sana dan jalur kereta api Seoul-Sinuiju dibuka. Pada saat itu, tari singa (sajachum) mulai dimasukkan dalam pementasan Bongsan talchum.
6. Saja noreum (사자놀음; "permainan singa"), sajachum, sajamu ("tarian singa")
adalah jenis talchum yang menampilkan tarian singa tradisional Korea. Dua orang mengenakan topeng dan badan yang meniru singa lalu menari mengiringi musik. Saja noreum seringkali dimainkan pada hari raya seperti Daeboreum. Tradisinya, pada masa lalu pertunjukkan ini ditampilkan untuk mengusir arwah jahat dari rumah-rumah dan desa. Di beberapa daerah saja noreum dinamakan saja nori atau juji noreum yang maknanya sama. Beberapa jenis tari topeng menampilkan saja noreum antara lain Bongsan Talchum dan Eunyul Talchum. Pementasan tari singa yang paling populer adalah Bukcheong saja noreum yang berasal dari kabupaten Bukcheong, Propinsi Hamgyeong Selatan (sekarang di Korea Utara), namun di Korea Selatan merupakan Warisan Budaya Nonbendawi Korea yang dilindungi sejak tahun 1967.
7. Cheoyongmu atau Tari Choyeong
adalah sebuah tari topeng tradisional dari Korea. Cheoyongmu termasuk salah satu tarian Korea yang paling tua, dan biasanya dipentaskan di istana pada zaman dahulu sebagai bagian dari ritual menolak bala atau mengusir arwah jahat serta memohon berkat dan kesejahteraan dari dewa. Tarian ini bermula dari zaman kerajaan Silla Bersatu dan masih bertahan sampai saat ini Tari Cheoyong menjadi aset budaya Korea yang terdaftar dalam Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia UNESCO pada tahun 2009.
 Tari Cheoyong bermula dari legenda pada zaman Silla Bersatu, tepatnya pada tahun ke-49 masa pemerintahan Raja Heongang (bertahta 875-886). Suatu hari sang raja sedang berpergian ke pesisir timur Gaeunpo di luar ibukota, namun tiba-tiba cuaca berubah mendung dan berkabut. Raja Heongang merasa bahwa hal ini disebabkan ulah raja naga laut timur, sehingga ia memerintahkan pengikutnya membangun kuil untuk menyenangkan sang raja naga. Setelah kuil tersebut selesai didirikan, cuaca buruk segera menghilang dan raja naga beserta ke-7 orang putranya muncul dari laut dan menari. Salah seorang daripada putra raja naga yang bernama Cheoyong, menjelma menjadi manusia dan bersedia mengabdi kepada raja di istana. Cheoyong menikahi seorang wanita cantik dan hidup di lingkungan manusia. Pada suatu hari saat Cheoyong pulang ke rumah, istrinya diserang oleh jin jahat yang menyebabkannya menderita penyakit cacar. Cheoyong melawan dengan cara menari dan menyanyi, sehingga jin tersebut kalah dan menyerah, namun karena Cheoyong memiliki sifat yang baik hati, maka ia mengampuninya dan membiarkannya pergi. Setelah itu hilanglah penyakit cacar dari istrinya. Gambaran Cheoyong yang berhasil mengusir arwah jahat membuat orang-orang Korea pada zaman dahulu mulai mengenal Cheoyong sebagai orang yang sakti, sehingga menginspirasikan sebuah tarian yang bermakna ritual yang dapat menghalau arwah jahat.


8. Gainjeonmokdan (kainʨʌmoktan)
adalah tarian istana Korea (jeongjae 정재) yang berarti orang-orang cantik yang memetik bunga peoni. Tarian ini awalnya diciptakan oleh Hyomyeong Seja (Putra Mahkota Hyomyeong) pada tahun 1829 untuk menyenangkan hati ayahnya, Raja Sunjo. Gainjeonmokdan tertulis pertama kali dalam Mujajinjak uiqwe (무자진작의궤) tahun 1828. Dalam pertunjukkannya, bunga peoni dalam vas besar di tengah panggung. Lalu para penari akan memetik bunganya satu per satu dan menari dalam gerakan yang lemah gemulai.
9. Ganggangsullae atau Ganggangsuwollae
adalah sebuah tarian tradisional dari Provinsi Jeolla Selatan, Korea Selatan. Ganggangsullae yang disebut juga tarian melingkar adalah tarian yang khusus dipentaskan oleh kaum wanita dengan saling berpegangan tangan membentuk lingkaran dan menyanyi. Tarian ini biasanya dipentaskan pada saat perayaan-perayaan hari raya seperti Jeongwol Daeboreum dan Chuseok di bawah sinar bulan purnama untuk memohon keberkatan dan panen yang melimpah. Tarian ini merupakan Warisan Budaya Nonbendawi Korea Selatan Nomor 8 tahun 1966 dan juga diakui UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia pada tahun 2009.
Sejarah
Tradisi menarikan tarian Ganggangsullae sudah ada sejak lama. Pada masa lalu orang Korea menampilkannya sebagai bagian dari ritual untuk memohon panen yang baik dan berlimpah dari dewa.Tarian ini pernah digunakan oleh Laksamana Yi Sun-sin sebagai taktik untuk mengalahkan tentara Jepang yang menyerbu Korea pada masa Perang Imjin. Karena jumlah pasukan Joseon sangat kecil dibanding jumlah musuh, Laksamana Yi menyuruh kaum wanita untuk mengenakan seragam militer dan menarikan Ganggangsullae di atas pegunungan selama bermalam-malam. Saat tentara Jepang menyaksikan mereka dari kejauhan, mereka terkejut karena mengira Joseon memiliki jumlah tentara yang sangat banyak, dan mereka pun mundur. Keberanian para wanita dan taktik militer Laksamana Yi tertuang dalam gerakan tari Ganggangsullae.

Gerakan

Biasanya ditarikan pada saat hari-hari besar seperti hari Chuseok, kaum wanita tua dan muda berkumpul dan membentuk lingkaran, saling berpegangan tangan dan menyanyi di bawah sinar bulan purnama. Wanita dengan suara yang paling merdu menyanyi pertama kali dan diikuti oleh penari lain. Mereka menyanyikan lirik lagu Ganggangsullae yang menceritakan tentang kehidupan rakyat di desa dalam mengerjakan aktivitasnya sehari-hari, seperti mengerjakan sawah, mencari ikan, menganyam, memasang genting dan sebagainya. Nama Ganggangsullae itu sendiri berasal dari lirik yang dinyanyikan berulang-ulang dari lagunya walaupun arti itu sebenarnya tidak diketahui. Tarian ini menggambarkan harmoni, persamaan dan persahabatan antar kaum wanita serta sebagai ekspresi kebebasan dan kegembiraan mereka. Pada awalnya gerakan tari mulai secara perlahan dan lama kelamaan menjadi semakin cepat sehingga tampak terlihat berlari dalam lingkaran.
10.              Mugo (hangul:무고)
adalah tarian tradisional dari Korea yang dipentaskan di istana. Mugo disebut juga dengan tarian genderang serta memiliki versi lain yang dipentaskan dalam ritual tarian perang Seungjeonmu.

Asal

Bukti-bukti menunjukkan bahwa Mugo telah muncul sejak zaman kerajaan Goguryeo pada abad ke-5 Masehi. Hal itu dilihat dari sisa-sisa situs kuburan tua Goguryeo yang banyak tersebar di wilayah Tiongkok timur laut dan sebelah utara semenanjung Korea. Dari kuburan tua tersebut ditemukan lukisan-lukisan dinding yang menggambarkan kehdupan bangsa Korea pada masa itu, termasuk lukisan tarian yang mirip dengan ciri-ciri tarian Mugo, yaitu adanya persamaan kostum tarian yang berlengan panjang. Lukisan dinding ini dinamakan Gamudo. Tarian Mugo dikembangkan pada masa kerajaan Goryeo dan akhirnya diwariskan ke Dinasti Joseon dan tetap dilestarikan sampai saat ini.

Bentuk

Tarian ini ditarikan 8 orang penari dengan perlengkapan utama genderang di tengah-tengah. Penari utama terdiri dari 4 orang yang disebut wonmu, dan diikuti 4 penari pembantu atau hyeopmu. Mereka memakai pakaian khusus yang memiliki lengan yang panjang dan berwarna-warni; hitam (melambangkan arah utara), merah (melambangkan arah selatan), biru (timur) dan putih (barat). Wonmu dan hyeopmu memegang pemukul genderang di setiap tangan. Tarian ini diiringi repertoar musik istana Korea Dongdongok dan Muaegok.
11.               Seonyurak ("tari pesta di atas perahu")
adalah tarian istana Korea yang berasal dari zaman kerajaan Silla yang menceritakan tentang pesta para bangsawan di atas perahu.Pada masa Silla dan Goryeo, tarian ini ditampilkan pada festival-festival besar seperti Palgwanhoe. Namun pada masa Dinasti Joseon, tarian ini punah dan tak pernah dipentaskan lagi.  Baru pada saat Raja Sunjo berkuasa, putranya yang bernama Pangeran Hyomyeong merekonstruksi kembali tari ini dan mengkomposisikannya menjadi tarian istana yang bersifat formal. Saat Raja Gojong berkuasa, tari ini telah ditampilkan di setiap perayaan dan pesta-pesta istana.Tari ini ditampilkan oleh sekelompok penari yang berperan sebagai gisaeng. Mereka menarik perahu yang berwarna meriah sambil bernyanyi iseon-ga dan eobusa. Dua orang penari berperan sebagai prajurit berkostum merah dan topi bulu berdiri di depan untuk meneriakkan aba-aba. Musik militer (chwita) yang jarang dimainkan dalam perayaan istana menjadi musik pembuka tarian. Gong yang dipukul 3 kali menjadi penanda kapal akan segera "berlayar". Dua orang gisaeng di haluan dan buritan masing-masing memegang layar dan jangkar. Para penari lain yang berada di sisi kapal, menari sambil menarik tali yang ditambatkan di atas layar. Seonyurak adalah tarian istana Korea paling meriah, dari segi banyaknya penari, permainan musik militer dan lirik-lirik yang menceritakan aktivitas nelayan dalam 12 bulan setahun.

12.              Taekkyeon

adalah sebuah seni bela diri tradisional yang berasal dari Korea. Taekkyeon yang mempunyai gerakan seperti orang menari dianggap sebagai cikal bakal beladiri taekwondo moderen serta merupakan salah satu olahraga yang tertua di Korea. Lukisan dinding kerajaan Goguryeo yang tergambar di situs Makam Samsil memperlihatkan masyarakat Korea sudah mempraktikkan taekkyeon sejak zaman Goguryeo. Seni bela diri ini kemudian dimainkan di dalam masyarakat Silla. Rekaman tertulis yang menuliskan catatan pertama mengenai taekkyeon adalah buku. Manmulmo atau Jaemulmo yang ditulis tahun 1790 oleh Lee Sung-ji pada masa Dinasti Joseon. Taekkyeon pada awalnya merupkan pecahan daripada cabang beladiri lain yakni Subak. Walau sejarah awalnya kurang diketahui, taekkyeon masih dimainkan sampai sekarang. Pada akhir abad ke-19, hanya terdapat satu-satunya kompetisi taekkyeon yang diadakan tiap tahunnya di Korea. Pada zaman keemasannya, taekkyeon bahkan digemari oleh raja dan banyak kompetisi yang diselenggarakan. Namun, pada akhirnya olahraga ini dibatasi dikarenakan di setiap kompetisinya diikuti oleh perjudian pada saat itu. Pada masa penjajahan Jepang, taekkyeon dilarang dimainkan. Semenjak didaftarkan ke dalam Warisan Budaya Nonbendawi Korea Selatan No.76 pada tanggal 1 Juni 1983, taekkyeon mulai mengalami kebangkitan kembali.
13.              Taepyeongmu (태평무; translasi literal "tari perdamaian agung")

adalah tari Korea yang melambangkan hasrat perdamaian bagi seluruh negeri. Asal-usulnya tari ini tidak diketahui secara jelas. Namun pada awal abad ke-20, penari dan pemain dram bernama Hahn Seongjun (hangul: 한성준; hanja: 韓成俊; 1875-1941) diketahui menata ulang koreografi tarian ini. Taepyeongmu telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Nonbendawi Korea Selatan. Menurut salah satu dari tiga perkiraan yang ada tentang asal-usul tarian ini, Taepyeongmu berasal dari tari istana yang kadang-kadang ditarikan raja-raja dinasti Joseon. Penari mengenakan kostum gwanbok seperti halnya pakaian yang dikenakan raja dan ratu kerajaan Korea.









1.5              jenis dan macam teater Korea
1.  Jeongdong Theater
adalah salah satu tempat terbaik untuk mengalami semangat seni tradisional Korea. Empat pertunjukan tradisional teratur dalam tarian, pungmul, vokal, dan instrumen musik didirikan pada tahun 1997 di teater untuk menyajikan berbagai jenis pertunjukan musik dari pengadilan untuk lagu-lagu rakyat. Ini tari dan musik berwarna-warni kacamata yang dilakukan oleh seniman mengenakan kostum tradisional yang telah dihormati dengan judul aset budaya manusia. Setiap program dapat sedikit berubah tanpa pemberitahuan, jadi memeriksa jadwal di website sebelum pertunjukan. Teater menyediakan sub judul bahasa Inggris dan Jepang dan menawarkan layanan antar-jemput bus gratis dari hotel-hotel besar di pusat kota Seoul. Seni pertunjukan tradisional di Jeongdong Theater telah memperoleh aklamasi dari wisatawan asing selama bertahun-tahun dan dianugerahi sebagai objek turis Terbaik oleh Korea Tourism Organization dan sebagai salah satu dari Sepuluh Must-See Atraksi oleh Pemerintah Metropolitan Seoul pada tahun 2000.
Genre perwakilan empat tari tradisional, seni pungmul, instrumental, dan vokal termasuk dalam tujuh sesi dalam dua program yang secara berkala diperbarui.

2.            Deotboegi



adalah drama tari topeng yang ditampilkan oleh kelompok Namsadang khusus untuk menarik minat dan perhatian dari penonton lokal, sehingga agak berbeda dibandingkan drama tari topeng regional yang lebih kuat elemen ritualnya. Dialog dan pementasan yang ditampilkan berisikan lawakan dan lakon konflik antara kaum bangsawan dan rakyat jelata yang terdiri dari 4 episode.
3. Deolmi

adalah permainan wayang boneka Kelompok Namsadang yang namanya berasal dari cara menggerakan deolmi (tengkuk) boneka. Pada zaman dahulu permainan wayang yang populer adalah kkokdugaksi noreum, bakcheomji noreum, dan hongdongji noreum. Namun pada saat ini hanya kkokdugaksi noreum yang masih dimainkan. Tema yang dimainkan umumnya adalah mengenai penyalahgunaan kekuasaan oleh pemimpin dan perlawanan dari masyarakat, sindiran terhadap biksu Buddha yang murtad, serta harapan dan aspirasi rakyat jelata. Sekitar 40 buah boneka dimainkan dalam 2 episode yang dibagi kedalam 7 babak yang saling berkaitan maupun lepas.
4. Changgeuk (창극)
adalah jenis pementasan opera Korea yang berkembang dari kesenian pansori (opera tradisional). Jenis opera ini dipengaruhi beberapa aspek opera barat namun menceritakan cerita rakyat Korea. Jika pansori dinyanyikan oleh seorang penyanyi, maka dalam changgeuk terdapat beberapa penyanyi.  Changgeuk pertama kali dipentaskan pada tahun 1903 di Hyeopnyulsa, sebuah teater barat pertama di Korea Pementasan pertama changgeuk adalah Kisah Chunhyang oleh beberapa aktor antara lain Kang Yong-hwan. Pada tahun 1908, sebuah bentuk teatrikal yang membagi peran dan serangkaian adegan menyanyi dipentaskan di Teater Wongaksa. Pada tahun 1933, bentuk opera changgeuk semakin kokoh dengan terbentuknya Masyarakat Musik Vokal Joseon. Panggung yang digunakan dalam pementasan ini menggunakan panggung teater khas barat.
1.6              kesimpulan

Tarian tradisional korea (민속무용) adalah jenis tarian Korea yang bersifat ceria dan dipopulerkan oleh rakyat. Tari ini bermula dari berbagai ritual keagamaan dan upacara pemujaan kepada dewa-dewa shamanisme (gut) serta perayaan-perayaan rakyat. Tarian rakyat yang lahir dari peristiwa-peristiwa ini dibentuk dan dipelihara oleh masyarakat sebagai hal yang penting dalam kehidupan mereka, sehingga lama-kelamaan berkembang menjadi pertunjukkan untuk hiburan dan kesenian Tarian rakyat mengungkapkan emosi rakyat dan kehidupan yang apa adanya. Rakyat dapat menarikannya secara bebas dan sedikit batasan dengan latar belakang musik yang bertempo cepat. Tari ini kental pula dengan unsur Shamanisme dan Buddhisme. Setiap daerah pun mempertahankan ciri khasnya masing-masing.
Teater/ Drama Korea memiliki asalusul dari ritus-ritus keagamaan dari masa prasejarah. Satu contoh menarik dari bentuk teater klasik ini adalah tari topeng Sandaenori, gabungan tari, lagu, serta cerita yang diselingi oleh sindiran dan lawakan. Meski satu daerah dan lainnya memiliki sedikit perbedaan dalam hal gaya, dialog dan kostum, bentuk teater ini memiliki popularitas yang luar biasa di antara masyarakat pedesaan sampai awal abad ke-20. Pansori dan ritual syamanistik yang dikenal sebagai gut adalah bentukbentuk lain pertunjukan teater bersifat sakral, yang sangat menarik minat khalayak ramai. Seluruh bentuk pertunjukan ini masih ditampilkan di Korea modern, meski tidak terlalu sering. Ada beberapa institusi yang menawarkan berbagai macam seni pertunjukan pada satu tempat, salah satu contohnya adalah Teater Jeong-dong di pusat kota Seoul. Teater ini menampilkan serangkaian seni pertunjukan tradisional, drama, serta musik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar